
PAKISTAN - Ketegangan antara Pakistan dan India kembali meningkat setelah Islamabad memperingatkan bahwa setiap upaya India untuk membatasi aliran air Sungai Indus dapat mengancam stabilitas kawasan Asia Selatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyebut bahwa pembatasan air yang menjadi sumber kehidupan jutaan warga Pakistan merupakan tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan dapat berdampak serius terhadap perdamaian regional.
“Setiap upaya untuk mengurangi pasokan air yang vital bagi kehidupan dan pembangunan Pakistan akan kami anggap sebagai ancaman serius,” ujar Andrabi dalam konferensi pers di Islamabad.
Ia menegaskan bahwa Pakistan akan mempertahankan hak-haknya atas sumber daya air melalui seluruh jalur yang tersedia, termasuk diplomatik, hukum internasional, politik, dan ekonomi, sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Andrabi juga memperingatkan bahwa tindakan yang secara sengaja menghambat aliran air ke Pakistan dapat memiliki konsekuensi luas, bahkan disebut berpotensi dipandang sebagai tindakan perang dalam kondisi tertentu.
Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Air India, CR Patil, menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa India sedang berupaya memastikan tidak ada lagi aliran air menuju Pakistan dalam beberapa tahun ke depan.
“Saya percaya pekerjaan ini berjalan sesuai jadwal, dan aliran air Indus ke Pakistan akan berhenti. Tidak akan ada setetes air pun yang mengalir,” ujarnya.
Perjanjian Air Indus (Indus Waters Treaty/IWT) yang ditandatangani pada 1960 mengatur pembagian enam sungai di sistem Sungai Indus. India memperoleh kendali atas tiga sungai timur, sementara Pakistan menguasai tiga sungai barat yang menjadi sumber utama irigasi dan kebutuhan air negara tersebut.
Pakistan menilai proyek-proyek bendungan dan pembangkit listrik tenaga air yang direncanakan India dapat mengurangi aliran air ke wilayahnya, yang selama ini menopang sekitar 80 persen irigasi pertanian Pakistan.
Sebelumnya, India sempat menangguhkan sebagian implementasi perjanjian tersebut setelah serangan di Pahalgam, Kashmir yang menewaskan puluhan orang dan memicu eskalasi hubungan kedua negara. Pakistan membantah tuduhan keterlibatan dalam insiden tersebut dan menegaskan bahwa perjanjian air tidak dapat ditangguhkan secara sepihak.
Ketegangan kedua negara bahkan sempat meningkat menjadi bentrokan bersenjata lintas perbatasan selama beberapa hari sebelum akhirnya mereda setelah mediasi internasional.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |