
JAKARTA - Pemerintah menilai kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang positif. Hal itu terlihat dari tiga indikator utama, yakni inflasi yang tetap terkendali, sektor manufaktur yang kembali tumbuh, serta perbaikan kinerja perdagangan luar negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan ketahanan pangan, energi, serta pengendalian inflasi.
Menurutnya, tiga indikator tersebut menjadi sinyal bahwa fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat menghadapi tekanan global.
Dari sisi harga, inflasi tahunan pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menurun dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen dan masih berada dalam sasaran pemerintah.
Penurunan inflasi dipengaruhi oleh melemahnya harga sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit seiring meningkatnya produksi di sejumlah daerah.
Sementara itu, inflasi inti tetap terjaga pada level 2,76 persen yoy, menunjukkan ekspektasi harga masyarakat masih stabil. Pemerintah juga menyebut pengendalian inflasi dilakukan melalui kerja sama dengan Bank Indonesia dan pemerintah daerah lewat berbagai program, termasuk Gerakan Pangan Murah, stabilisasi pasokan dan harga pangan, serta penguatan cadangan beras pemerintah.
Di sektor industri, aktivitas manufaktur Indonesia mulai menunjukkan pemulihan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 kembali masuk zona ekspansi dengan skor 50,2, setelah sebelumnya berada di level kontraksi 46,9.
Perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya pesanan baru yang berdampak pada kenaikan produksi. Dunia usaha juga mulai melakukan perekrutan tenaga kerja setelah sebelumnya menahan ekspansi selama beberapa bulan.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar US$3,58 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Pada Juni 2026, defisit perdagangan bulanan berhasil ditekan menjadi sekitar US$450 juta, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$1,61 miliar. Perbaikan ini didukung oleh surplus perdagangan nonmigas yang meningkat serta penurunan defisit sektor migas.
Ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama, terutama dari komoditas minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya yang mengalami pertumbuhan. Sementara impor nasional masih didominasi bahan baku dan barang modal, yang dinilai mencerminkan aktivitas produksi dan investasi yang tetap berjalan.
Airlangga menegaskan pemerintah akan terus menjaga momentum pemulihan ekonomi melalui kebijakan yang fleksibel agar daya beli masyarakat tetap terjaga, industri semakin kompetitif, dan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |