
JAKARTA - Amerika Serikat melancarkan operasi militer terbaru di wilayah sekitar Selat Hormuz sebagai respons atas serangan rudal yang diduga dilakukan Iran terhadap sejumlah kapal komersial. Washington menilai tindakan tersebut mengancam keamanan jalur pelayaran internasional dan melanggar kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.
Menurut pernyataan Komando Pusat AS, serangan dilakukan untuk memberikan respons tegas atas insiden yang menargetkan kapal-kapal sipil yang melintas di kawasan strategis tersebut. Militer AS menuduh Iran melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan pelayaran dan stabilitas regional.
Tak lama setelah pengumuman itu, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan di beberapa lokasi sekitar Selat Hormuz. Ledakan disebut terdengar di Pulau Qeshm, kota Sirik, serta kawasan pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi salah satu pusat aktivitas maritim Iran.
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menembakkan rudal ke arah kapal-kapal komersial pada awal pekan ini. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada sedikitnya dua kapal, meski tidak ada laporan korban jiwa.
Salah satu kapal yang disebut terdampak adalah kapal tanker gas alam cair yang beroperasi di sekitar Teluk Oman. Laporan media internasional menyebut kapal mengalami kerusakan pada bagian lambung dan terjadi kebakaran di area ruang mesin, namun seluruh awak berhasil selamat.
Di sisi lain, otoritas keamanan maritim Inggris juga melaporkan insiden terpisah yang melibatkan kapal tanker di perairan dekat Oman. Kapal tersebut mengalami kebakaran setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya.
Perkembangan terbaru ini menambah ketidakpastian di kawasan Teluk, meskipun Amerika Serikat dan Iran saat ini masih berada dalam fase gencatan senjata sambil melanjutkan proses negosiasi diplomatik.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |