
AUSTRALIA - Australia mencatat defisit neraca perdagangan barang secara tak terduga pada Mei 2026. Defisit ini menjadi yang terbesar sejak akhir 2015, dipicu oleh penurunan tajam ekspor komoditas utama seperti emas dan bijih besi, sementara impor justru meningkat.
Data dari Australian Bureau of Statistics (ABS) yang dirilis, Kamis (2/7/2026) menunjukkan neraca perdagangan barang Australia mengalami defisit sebesar A$3 miliar atau sekitar US$2,07 miliar pada Mei. Angka ini berbalik dari surplus A$1,4 miliar pada April, sekaligus jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan surplus sekitar A$2,2 miliar.
Penurunan neraca perdagangan terutama disebabkan melemahnya kinerja ekspor. Total ekspor Australia turun 6,9% pada Mei setelah sebelumnya mengalami lonjakan pada bulan April.
Penurunan terbesar berasal dari ekspor emas nonmoneter yang anjlok sekitar 35% dan ekspor biji besi yang turun sekitar 9%
Kedua komoditas tersebut merupakan andalan utama ekspor Australia, sehingga pelemahannya langsung berdampak besar pada kinerja perdagangan negara tersebut.
Di sisi lain, impor Australia meningkat 2,6% secara bulanan. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya pembelian kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan peralatan telekomunikasi.
Kombinasi antara penurunan ekspor dan kenaikan impor membuat neraca perdagangan Australia kembali masuk ke zona defisit untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.
Menurut data tersebut, pelemahan permintaan global terhadap komoditas utama Australia mulai menekan kinerja ekspor. Sementara itu, aktivitas impor tetap kuat, menunjukkan permintaan domestik masih relatif stabil.
Kondisi ini menimbulkan tekanan terhadap surplus perdagangan yang sebelumnya menjadi salah satu penopang utama ekonomi Australia berbasis komoditas.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |