
TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan operasi gabungan menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan 85 fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas operasi militer AS yang sebelumnya menghantam sejumlah wilayah di Iran.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut sasaran utama serangan meliputi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait. Iran mengklaim operasi itu merupakan tahap awal pembalasan atas tindakan Washington yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata dan perjanjian yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.
Menurut Iran, serangan udara AS sebelumnya menghantam sejumlah wilayah di Provinsi Hormozgan dan Mahshahr. Teheran juga menuding Washington sengaja meningkatkan tekanan militer di tengah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut sempat menyampaikan komitmen untuk menghentikan sementara operasi militer selama masa pemakaman Khamenei yang berlangsung selama tujuh hari. Namun, Amerika Serikat kemudian kembali melancarkan serangan dengan alasan menanggapi ancaman terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan Teluk memang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Pada 24 Juni, Oman bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengumumkan pembentukan koridor pelayaran sementara di sepanjang pantai Oman untuk membantu evakuasi kapal-kapal yang terjebak akibat konflik.
Namun, pemerintah Iran menolak kebijakan tersebut dengan alasan koridor itu dibentuk tanpa koordinasi dengan Teheran. Iran menegaskan seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz harus menggunakan jalur pelayaran yang telah disetujui pemerintahnya.
Beberapa hari setelah koridor dibuka, dua kapal yang melintasi jalur tersebut dilaporkan diserang sehingga rencana evakuasi dihentikan. Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah selatan Iran pada 26 dan 27 Juni.
Sebagai balasan, Iran mengklaim menembakkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Kedua negara sempat menghentikan aksi militer pada 28 Juni dan melanjutkan pembicaraan teknis tidak langsung di Qatar pada 1 Juli.
Namun, situasi kembali memburuk setelah tiga kapal lainnya dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz. Washington menyatakan operasi militernya dilakukan sebagai respons terhadap ancaman terhadap jalur pelayaran internasional, sedangkan Teheran kembali melancarkan serangan yang diklaim menyasar fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan yang diklaim Iran tersebut. Pemerintah Amerika Serikat juga belum memberikan pernyataan resmi yang memverifikasi klaim Iran mengenai serangan terhadap 85 fasilitas militer di Bahrain dan Kuwait.
Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran masyarakat internasional karena berpotensi mengganggu stabilitas keamanan Timur Tengah, keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, serta pasokan energi global yang bergantung pada jalur strategis tersebut.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |