
BOGOTA - Kolombia kembali diguncang aksi kekerasan hanya sehari setelah Abelardo De la Espriella resmi dilantik sebagai presiden baru. Dua ledakan terjadi di lokasi berbeda pada Sabtu, 8 Agustus 2026, dan menyebabkan seorang polisi tewas serta sejumlah orang mengalami luka-luka.
Ledakan pertama terjadi di sekitar wilayah Cali, Kolombia bagian barat daya. Menurut Angkatan Darat Kolombia, kelompok pembangkang FARC diduga menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan gerbang tol yang masih dalam tahap pembangunan di jalur Pan-Amerika, wilayah administratif Santander de Quilichao.
Dua petugas keamanan dilaporkan mengalami luka ringan akibat serangan tersebut.
Daerah sekitar lokasi ledakan menjadi tegang setelah kejadian. Seorang petugas pemadam kebakaran bernama Roberto Sandoval mengatakan warga merasa khawatir dan cemas karena situasi keamanan kembali memburuk.
Dampak ledakan juga dirasakan oleh warga sekitar. Sonia Zapata, perempuan berusia 68 tahun, mengaku ketakutan setelah kaca jendela rumahnya pecah dan berserakan hingga ke tempat tidurnya.
Ledakan kedua terjadi sekitar 1.000 kilometer dari lokasi pertama, tepatnya di wilayah Cesar. Dalam kejadian ini, sebuah drone yang membawa bahan peledak menghantam sebuah kantor polisi.
Serangan tersebut menyebabkan seorang petugas kepolisian meninggal dunia. Hingga laporan terakhir, aparat belum mengungkap identitas pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Dua insiden itu terjadi hanya sehari setelah De la Espriella dilantik sebagai Presiden Kolombia di Cali pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Presiden baru tersebut mengecam keras serangkaian serangan melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur negara merupakan ancaman terhadap kemajuan nasional.
De la Espriella juga menyatakan pemerintah tidak akan memberikan ruang bagi pelaku untuk menghindari proses hukum.
Situasi tersebut menjadi ujian awal bagi De la Espriella yang sebelumnya berjanji mengambil kebijakan keras terhadap kelompok bersenjata dan jaringan perdagangan narkoba.
Presiden yang dikenal dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden El Salvador Nayib Bukele itu berencana memperketat operasi keamanan, termasuk meningkatkan serangan udara terhadap kelompok gerilyawan dan penyelundup narkoba dengan dukungan Amerika Serikat serta Israel.
Ia juga mengusung rencana pembangunan penjara berkapasitas besar, mengikuti kebijakan yang diterapkan pemerintahan Bukele di El Salvador.
Kondisi keamanan Kolombia sendiri masih menjadi persoalan serius. Meski perjanjian damai bersejarah dengan FARC telah dicapai pada 2016, sejumlah kelompok bersenjata yang menolak kesepakatan tersebut masih beroperasi di berbagai wilayah.
Kelompok-kelompok tersebut juga disebut memiliki keterkaitan dengan perdagangan kokain yang menjadikan Kolombia sebagai salah satu pusat produksi narkotika terbesar di dunia.
Dengan meningkatnya kembali kekerasan, pemerintahan De la Espriella kini menghadapi tantangan besar untuk menekan aktivitas kelompok bersenjata dan jaringan narkoba di tengah situasi keamanan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam satu dekade terakhir.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |