
KUALALUMPUR - Angkatan Laut Malaysia dijadwalkan menerima kapal tempur pesisir (Littoral Combat Ship/LCS) pertama pada Desember 2026 setelah proyek tersebut mengalami penundaan hampir satu dekade. Meski menjadi tonggak penting dalam modernisasi armada laut Negeri Jiran, kapal tersebut belum dibekali rudal anti-kapal sehingga kemampuan serangnya masih terbatas.
Kapal perang kelas Maharaja Lela itu dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari peperangan anti-kapal selam, pertahanan udara, hingga peperangan elektronik. Namun, tanpa rudal anti-kapal, kapal tersebut belum dapat melaksanakan fungsi serangan terhadap kapal permukaan lawan yang menjadi salah satu kemampuan utamanya.
Sebelumnya, Malaysia telah menandatangani kontrak dengan Norwegia pada 2018 untuk pengadaan Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg Defence & Aerospace. Rudal tersebut direncanakan menjadi persenjataan utama kapal LCS. Meski pembayaran kontrak telah mencapai sekitar 95 persen, pemerintah Norwegia kemudian membatalkan izin ekspor menjelang pengiriman.
Keputusan itu diambil dengan alasan perubahan situasi keamanan global. Norwegia memilih membatasi ekspor teknologi pertahanan strategis dan memprioritaskan penjualannya kepada negara-negara sekutu terdekat, terutama anggota NATO.
Akibat pembatalan tersebut, Malaysia kini mencari alternatif pemasok rudal. Turki dan Korea Selatan disebut sebagai dua negara yang berpeluang menyediakan sistem rudal pengganti agar kapal perang tersebut dapat memiliki kemampuan tempur yang sesuai dengan rancangannya.
Sejumlah pengamat pertahanan menilai ketiadaan rudal memang mengurangi daya gentar kapal terhadap lawan. Namun, mereka juga menekankan bahwa kehadiran kapal baru tetap mendesak mengingat sebagian besar armada Angkatan Laut Malaysia sudah berusia tua dan membutuhkan biaya pemeliharaan yang semakin besar.
Data menunjukkan lebih dari 60 persen kapal perang Malaysia telah beroperasi selama lebih dari 40 tahun. Kondisi itu dinilai memengaruhi kesiapan operasional armada sehingga pengadaan kapal baru dianggap lebih penting meski persenjataannya belum sepenuhnya lengkap.
Analis pertahanan juga menilai kapal tersebut masih dapat menjalankan berbagai tugas lain, seperti patroli maritim, pengawasan wilayah perairan, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), serta bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana. Meski demikian, kemampuan serangan terhadap kapal permukaan tetap dianggap sebagai elemen penting yang perlu segera dipenuhi.
Malaysia berencana mengoperasikan lima kapal tempur pesisir kelas Maharaja Lela dengan nilai proyek sekitar 2,55 miliar dolar AS. Kapal-kapal tersebut dibangun berdasarkan desain Gowind milik perusahaan French Naval Group dan dijadwalkan dikirim secara bertahap hingga 2029.
Program pembangunan kapal ini sebenarnya ditargetkan selesai pada 2019. Namun, berbagai persoalan pengelolaan di galangan Boustead Naval Shipyard menyebabkan proyek mengalami keterlambatan bertahun-tahun. Pemerintah Malaysia kemudian mengambil alih proyek tersebut melalui restrukturisasi agar pembangunan dapat kembali berjalan sesuai rencana.
Dengan kondisi saat ini, kapal perang pertama kelas Maharaja Lela diperkirakan akan mulai bertugas sebagai kapal pengawal modern sambil menunggu pengadaan sistem rudal anti-kapal yang akan melengkapi kemampuan tempurnya.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |