
JAKARTA - Kementerian Pariwisata mendorong batik tidak hanya dikenal sebagai produk kerajinan, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata bagi wisatawan mancanegara.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, kekuatan batik terletak pada proses pembuatan serta filosofi yang melekat di dalamnya. Batik sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak 2009.
Menurut Made, karakter wisatawan dari berbagai negara membuat batik memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Wisatawan dari Malaysia, Singapura, dan Thailand, misalnya, dinilai memiliki kedekatan budaya dengan Indonesia sehingga dapat lebih mudah tertarik pada batik.
Sementara itu, wisatawan asal Jepang dan Korea Selatan disebut memiliki ketertarikan terhadap keterampilan serta detail dalam proses pembuatan batik. Pasar Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Prancis juga dinilai potensial karena ketertarikannya terhadap budaya dan konsep slow fashion.
Adapun wisatawan dari Amerika Serikat dan Australia dapat menjadi sasaran melalui pendekatan berbasis cerita yang mengangkat sejarah, proses, serta nilai budaya di balik batik.
Untuk memperluas pasar tersebut, Kementerian Pariwisata mendorong pengenalan batik kepada wisatawan asing sekaligus mengajak agen perjalanan memasukkan kampung-kampung batik ke dalam rencana perjalanan mereka.
Pengembangan wisata batik juga membutuhkan keberlanjutan dari sisi sumber daya manusia. Regenerasi perajin menjadi perhatian agar semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam kegiatan membatik dan pelayanan wisata berbasis pengalaman.
Sejumlah daerah telah menjadikan batik sebagai bagian dari daya tarik desa dan kampung wisata. Di antaranya Kampung Batik Kauman dan Laweyan di Solo, Desa Wisata Batik Giriloyo di Yogyakarta, Kampung Batik Pesindon dan Kauman di Pekalongan, Desa Wisata Batik Trusmi di Cirebon, serta Kampung Batik Lasem di Rembang.
Kementerian Pariwisata memberikan dukungan kepada pengelola desa wisata melalui berbagai pelatihan. Materinya antara lain pengelolaan layanan penginapan, pemasaran digital, penyusunan e-katalog, serta penerapan standar Kebersihan, Keamanan, Kesehatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE).
Promosi batik juga dilakukan melalui sejumlah kegiatan. Kementerian Pariwisata memasukkan Festival Batik Pekalongan dan Solo Batik Carnival ke dalam Kharisma Event Nusantara.
Selain itu, promosi dilakukan melalui pameran wastra, kampanye #DiIndonesiaAja dan Wonderful Indonesia, serta fasilitasi program perjalanan wisata pengenalan yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk merasakan langsung proses membatik.
Dengan pendekatan tersebut, batik diharapkan tidak berhenti sebagai oleh-oleh wisatawan, tetapi menjadi aktivitas yang dapat dialami langsung selama mereka berkunjung ke Indonesia.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |