
JAKARTA - Gelombang panas yang melanda sebagian besar kawasan Eropa terus menimbulkan dampak serius. Di Spanyol, sedikitnya 212 orang dilaporkan meninggal dunia akibat berbagai insiden yang berkaitan dengan suhu ekstrem dalam kurun waktu empat hari terakhir.
Data tersebut dihimpun oleh sistem pemantauan kematian MoMo, yang mencatat angka kematian harian dan membandingkannya dengan rata-rata historis untuk mengidentifikasi lonjakan kematian yang berkaitan dengan cuaca panas. Periode pemantauan berlangsung sejak 21 hingga 24 Juni waktu setempat.
Badan Meteorologi Nasional Spanyol (AEMET) memperingatkan bahwa gelombang panas masih berpotensi menimbulkan risiko serius, bahkan luar biasa, di sejumlah wilayah. Kondisi terparah diperkirakan terjadi di bagian utara negara itu, dengan suhu udara diprediksi mencapai 42 derajat Celsius.
Wilayah utara dinilai lebih rentan menghadapi cuaca ekstrem karena penggunaan pendingin udara di kawasan tersebut masih tergolong rendah. Berdasarkan data portal properti Idealista, hanya sekitar 1 hingga 9 persen rumah yang memiliki fasilitas pendingin udara, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 41 persen.
Pemerintah setempat telah menetapkan status peringatan merah di sejumlah wilayah yang diperkirakan mengalami suhu tertinggi. Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta memperhatikan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.
Sementara itu, meski suhu tinggi masih menyelimuti sebagian besar wilayah Spanyol, kondisi cuaca mulai menunjukkan sedikit perbaikan di kawasan pesisir selatan dan sepanjang pantai Mediterania. Namun, otoritas tetap mengingatkan bahwa risiko kesehatan akibat gelombang panas masih tinggi selama beberapa hari ke depan.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |