
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang stabil meskipun dunia masih dibayangi berbagai ketidakpastian, mulai dari perlambatan ekonomi global, gejolak harga komoditas, hingga tingginya harga energi.
Melalui Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF), Kemenkeu menilai sejumlah indikator utama menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat. Beberapa indikator tersebut antara lain inflasi yang relatif terkendali, aktivitas manufaktur yang kembali tumbuh, serta neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.
Salah satu sinyal positif datang dari sektor industri. Setelah sempat berada di zona kontraksi, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandakan aktivitas manufaktur nasional kembali memasuki fase ekspansi dan menunjukkan adanya perbaikan pada sektor produksi.
Di sisi eksternal, Indonesia juga masih mampu mempertahankan surplus neraca perdagangan pada April 2026. Meskipun surplus tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kondisi tersebut tetap mencerminkan ketahanan sektor perdagangan luar negeri dan kontribusi ekspor terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, inflasi tahunan pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level 1,60 persen. Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh meningkatnya harga pangan. Namun demikian, pemerintah menilai perkembangan harga masih berada dalam kondisi yang terkendali dan terus dipantau secara cermat.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Upaya tersebut mencakup penguatan pasokan pangan, operasi pasar, intervensi harga pada komoditas tertentu, hingga pengawasan distribusi barang untuk mencegah lonjakan harga yang berlebihan.
Pemerintah juga terus mewaspadai dampak rambatan dari kondisi global, termasuk masih tingginya harga minyak mentah dunia yang berpotensi memengaruhi inflasi domestik. Oleh karena itu, koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Selain langkah pengendalian inflasi, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi yang akan digulirkan selama periode libur sekolah. Program tersebut dirancang untuk mendorong konsumsi masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Beberapa stimulus yang disiapkan antara lain pemberian diskon transportasi, termasuk diskon tiket pesawat, serta berbagai kebijakan yang bertujuan menjaga biaya hidup masyarakat tetap terjangkau. Pemerintah juga berkomitmen memastikan harga BBM bersubsidi tetap dapat diakses masyarakat dengan harga yang wajar.
DJSEF Kemenkeu menegaskan bahwa pemerintah akan terus menerapkan bauran kebijakan yang responsif, antisipatif, dan terukur dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan. Dengan dukungan konsumsi domestik yang kuat, sektor manufaktur yang mulai pulih, serta stabilitas harga yang tetap terjaga, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia mampu mempertahankan ketahanannya sepanjang 2026.
Di tengah berbagai dinamika global, kombinasi antara inflasi yang terkendali, kembalinya ekspansi manufaktur, dan surplus perdagangan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |