
JAKARTA - Rupiah menutup perdagangan awal Juni 2026 dengan performa solid. Mata uang Garuda menguat 0,20% dan parkir di level Rp 17.830 per dolar AS, sekaligus memutus tren pelemahan selama lima hari berturut-turut.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat bergerak liar. Dari pembukaan di kisaran Rp 17.850, rupiah melemah hingga menyentuh Rp 17.892, sebelum akhirnya bangkit dan ditutup di zona hijau.
Di pasar global, dolar AS juga ikut melemah. Indeks dolar (DXY) turun 0,12% ke level 99,081, membuka ruang bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah untuk menguat.
Penguatan rupiah tidak lepas dari intervensi kebijakan moneter oleh [Bank Indonesia]. Bank sentral memperketat aturan pembelian dolar tanpa underlying, yang kini dibatasi hanya US$25.000 per bulan per pelaku mulai Juni 2026.
Di sisi lain, BI tetap memberi fleksibilitas di pasar derivatif dengan menaikkan batas transaksi tertentu hingga US$10 juta, serta terus mendorong penggunaan Local Currency Transaction (LCT) yang kini telah menembus US$22,61 miliar hingga April 2026.
Namun dari sisi fundamental, data [Badan Pusat Statistik] memberi sinyal hati-hati. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 anjlok tajam menjadi hanya US$90 juta, dari sebelumnya US$3,32 miliar.
Penyebabnya, impor melonjak 22,49% menjadi US$25,21 miliar, sementara ekspor naik lebih terbatas di angka 21,98%.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |