
JAKARTA - Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Namun pemerintah tetap optimistis mata uang Garuda akan kembali menguat dalam waktu dekat, seiring harapan meredanya ketegangan global dan kuatnya fundamental ekonomi domestik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah saat ini masih dalam batas yang dapat dikelola. Ia bahkan mengungkapkan bahwa skenario depresiasi hingga mendekati level saat ini telah dihitung dan dinilai tidak mengganggu kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih kuat. Jika ekonomi tumbuh solid dalam jangka menengah dan panjang, maka nilai tukar pada akhirnya akan ikut menguat,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan harga energi turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di kawasan Asia, tekanan serupa juga dirasakan negara lain seperti India, Filipina, dan Thailand yang sama-sama bergantung pada impor energi.
Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi. Bahkan, suku bunga acuan sempat dinaikkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan menahan arus keluar modal asing.
Pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor dengan memastikan stabilitas pasar obligasi agar tidak terjadi kerugian besar yang dapat memicu capital outflow.
Meski tekanan masih tinggi, pemerintah meyakini kondisi akan membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, terutama jika tensi geopolitik global mereda.
“Jika situasi global membaik, kami yakin rupiah juga akan ikut pulih,” kata Purbaya.
Selain itu, pemerintah menilai Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara G20, sehingga tetap menarik bagi investor asing.
Namun di sisi lain, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati. Penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak membuat investor lebih memilih aset aman, sehingga tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.
Kini, pasar menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |