
YOGYAKARTA - Tim mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih juara kedua dalam ajang Project Management Challenge (PMC) 2026 yang digelar di Bandung, Jawa Barat, pada 5-7 Juni 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui gagasan inovatif yang menawarkan solusi pengelolaan sampah berbasis komunitas guna mengatasi persoalan sampah organik dan nonorganik, sekaligus memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan.
Tim yang mengusung nama Agile-gilean terdiri atas Maria Yolanda Elisabeth Turnip, Mafaza A Zidna, Jauhar Najma Wigar Utungga, dan Michelle Carissa Purnama. Mereka berhasil melaju hingga babak final setelah melewati tahap seleksi dan semifinal yang diikuti mahasiswa dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.
Dalam kompetisi tersebut, peserta diminta menyusun solusi atas permasalahan nyata yang ditemukan di lapangan. Tim UGM memilih fokus pada persoalan pengelolaan sampah di Kota Bandung yang menghadapi keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA).
Michelle Carissa Purnama menjelaskan timnya merancang sebuah aplikasi yang berfungsi menghubungkan berbagai pihak yang telah terlibat dalam pengelolaan sampah sehingga alur pengolahan limbah menjadi lebih efektif.
"Kami merancang solusi agar sampah tidak langsung dibuang ke TPA, tetapi diolah terlebih dahulu melalui sistem yang menghubungkan koordinasi antar pemangku kepentingan sehingga alur pengelolaan sampah di Bandung menjadi lebih lancar," ujarnya.
Menurut Michelle, pendekatan yang ditawarkan berfokus pada optimalisasi peran komunitas pengolah sampah. Sampah yang masih memiliki nilai guna akan diproses oleh komunitas, sementara residu yang tidak dapat diolah akan dikirim ke tempat pembuangan akhir.
Selain menyelesaikan persoalan sampah perkotaan, tim Agile-gilean juga mengembangkan solusi untuk Desa Wisata Cidadap. Melalui observasi langsung di lokasi, mereka menyusun rancangan proyek yang mengintegrasikan berbagai pemangku kepentingan guna menyelesaikan beragam tantangan yang dihadapi desa wisata tersebut.
Michelle mengakui salah satu tantangan terbesar dalam kompetisi adalah merancang solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga realistis untuk diterapkan sesuai prinsip Project Management Body of Knowledge (PMBOK).
"Tantangannya adalah menemukan metode pengerjaan proyek yang inovatif namun tetap realistis untuk dijalankan. Selain itu, pada tahap final kami harus menyelesaikan rancangan proyek hanya dalam waktu satu hari," katanya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan waktu, tim UGM berhasil meyakinkan dewan juri melalui presentasi yang menampilkan solusi aplikatif terhadap persoalan lingkungan dan pengelolaan proyek.
Bagi para anggota tim, pencapaian ini tidak hanya menghadirkan prestasi akademik, tetapi juga menjadi pengalaman berharga dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, manajemen waktu, kerja sama tim, serta penerapan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.
"Kami belajar menerapkan teori yang dipelajari di kelas untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat melalui solusi yang kreatif dan solutif," tutur Michelle.
Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa UGM dalam menghadirkan inovasi yang mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan berbasis kolaborasi.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |