
NEWDELHI - Gerakan sosial bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak di India terus menarik perhatian publik sejak diluncurkan pada Mei 2026. Berawal dari sebuah satire politik di media sosial, gerakan tersebut kini berkembang menjadi wadah aspirasi bagi banyak anak muda dan telah mengorganisasi sejumlah aksi demonstrasi.
Popularitas CJP meningkat di tengah kekecewaan generasi muda terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi, termasuk polemik pembatalan ujian masuk kedokteran National Eligibility cum Entrance Test (NEET) akibat dugaan kebocoran soal.
Salah satu pendukung gerakan ini adalah Ayush Shimpi, pemuda berusia 20 tahun dari distrik Gadchiroli, Maharashtra. Setelah mempersiapkan diri selama dua tahun untuk mengikuti ujian NEET, ia harus menerima kenyataan bahwa ujian tersebut dibatalkan dan dijadwalkan ulang.
Kemunculan Partai Kecoak sendiri tidak lepas dari kontroversi yang dipicu pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, mengenai kondisi anak muda yang menganggur.
"Ada anak-anak muda, seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki tempat dalam profesi apa pun," kata Surya Kant.
"Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa aktif media sosial, dan beberapa menjadi aktivis RTI," ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu reaksi luas di kalangan generasi muda. Seorang mahasiswa India di Boston University, Abhijeet Dipke, kemudian menggagas ide yang menjadi cikal bakal Partai Kecoak dengan mengusung pesan persatuan bagi mereka yang merasa diremehkan.
Pada 16 Mei 2026, Dipke resmi meluncurkan Cockroach Janta Party. Gerakan ini kemudian berkembang pesat dan dianggap sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial-politik yang dirasakan sebagian anak muda India.
Setelah kembali ke India pada awal Juni, Dipke memimpin aksi demonstrasi di kawasan Jantar Mantar, New Delhi. Dalam aksi tersebut, massa menuntut Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mundur dari jabatannya terkait dugaan kegagalan menangani kebocoran soal ujian nasional.
Meski jumlah peserta demonstrasi tidak terlalu besar, CJP menilai aksi tersebut berhasil menyampaikan pesan kepada publik dan pemerintah.
"Namun, ini tidak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Jika ia tidak dicopot atau tidak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan," tulis Dipke melalui akun media sosialnya pada 7 Juni.
Juru bicara CJP, Saurav Das, mengakui bahwa gerakannya masih menghadapi berbagai tantangan karena belum memiliki struktur organisasi formal. Namun ia menilai capaian yang diraih dalam waktu singkat cukup signifikan.
"Ada banyak tantangan dalam menggerakkan orang di lapangan. Kami bukan organisasi terdaftar atau serikat pekerja. Untuk memiliki struktur semacam itu, akan membutuhkan waktu. Begitu kami memilikinya, menggerakkan orang juga akan lebih mudah," ujarnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, Partai Kecoak juga menggelar aksi di sejumlah kota lain, termasuk Pune di negara bagian Maharashtra. Tuntutan utama mereka tetap sama, yakni meminta pertanggungjawaban pemerintah atas berbagai persoalan yang dianggap merugikan generasi muda.
Bagi pendukung seperti Shimpi, keberadaan CJP memberi ruang bagi suara anak muda yang selama ini merasa tidak didengar.
"Tapi rasanya suara saya didengar. CJP mengangkat masalah-masalah kami dan menjaga demokrasi tetap hidup," kata Shimpi.
Popularitas gerakan ini juga terlihat di media sosial. Dalam waktu kurang dari satu bulan, akun Instagram CJP berhasil mengumpulkan puluhan juta pengikut, sementara berbagai video aksi mereka ditonton ratusan juta kali dan menjadi perbincangan luas di India.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |