
AMSTERDAM - Pemerintah Belanda secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada ribuan mantan prajurit KNIL asal Maluku dan keluarga mereka atas perlakuan yang dinilai tidak adil setelah kedatangan mereka di Belanda pada awal 1950-an.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, dalam acara peresmian sebuah monumen nasional di Rotterdam. Monumen itu didirikan untuk mengenang kedatangan sekitar 12.500 orang Maluku, termasuk mantan anggota KNIL dan keluarganya, yang tiba di Belanda pada tahun 1951.
Dalam pidatonya, Jetten mengakui bahwa pemerintah Belanda telah memperlakukan mereka secara tidak layak. Ia menyoroti keputusan pemecatan para tentara KNIL, kondisi tempat tinggal yang buruk, serta kurangnya perhatian terhadap kehidupan komunitas Maluku setelah mereka menetap di Belanda.
Sebagian besar warga Maluku yang dibawa ke Belanda saat itu mengira perpindahan tersebut hanya bersifat sementara. Mereka berharap dapat kembali ke tanah kelahiran atau menyaksikan terbentuknya negara Maluku yang merdeka. Namun harapan tersebut tidak pernah terwujud.
Setelah tiba di Belanda, banyak dari mereka kehilangan status sebagai tentara, menghadapi pembatasan dalam kehidupan sosial dan politik, serta ditempatkan di berbagai lokasi penampungan yang dinilai tidak memadai, termasuk bekas fasilitas yang pernah digunakan pada masa Perang Dunia II.
Jetten menyatakan penyesalannya atas penderitaan yang dialami generasi pertama komunitas Maluku di Belanda. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengakui kesalahan masa lalu dan menghormati pengorbanan yang telah diberikan para mantan prajurit tersebut.
Permintaan maaf ini menjadi bagian dari upaya Belanda untuk meninjau kembali berbagai kebijakan dan tindakan yang berkaitan dengan sejarah kolonialnya, termasuk dampaknya terhadap masyarakat Maluku yang hingga kini masih memiliki komunitas besar di negara tersebut.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |