
JAKARTA - Indonesia dan Korea Selatan memperkuat kerja sama pelestarian arsip kebudayaan dengan mengajak negara-negara Asia menyiapkan dokumen bersejarah untuk masuk dalam program Memory of the World (MoW) UNESCO atau Ingatan Kolektif Dunia.
Kolaborasi tersebut dijalankan melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bersama Korean National Commission for UNESCO (KNCU). Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan pengakuan internasional terhadap warisan dokumenter yang memiliki nilai sejarah dan budaya penting.
Kepala ANRI, Mego Pinandito, mengatakan bahwa inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi Indonesia melalui arsip. Dokumen bersejarah, termasuk Negarakertagama, dinilai memiliki nilai penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya bangsa kepada masyarakat dunia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Menurut Mego, kemitraan dengan Korea Selatan membuka peluang bagi negara-negara di kawasan Asia untuk meningkatkan kualitas pengelolaan arsip dan mempersiapkan nominasi yang akan diajukan kepada UNESCO.
Program tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan lokakarya selama tiga hari di Jakarta. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari 19 negara yang berasal dari kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Tengah, hingga Asia Pasifik.
Para peserta mendapatkan kesempatan untuk membahas serta menyempurnakan usulan arsip kebudayaan dari masing-masing negara. Dokumen yang sebelumnya masih berbentuk rancangan awal diharapkan dapat berkembang menjadi nominasi yang siap diajukan ke UNESCO.
Sekretaris Jenderal KNCU, Hyunik Hong, menjelaskan bahwa kegiatan pelestarian arsip dokumenter tersebut telah dilaksanakan setiap tahun sejak 2009.
Program ini bertujuan memperluas pengakuan terhadap warisan dokumenter negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, yang dinilai belum sepenuhnya terwakili dalam daftar internasional Memory of the World UNESCO.
Hong berharap kegiatan tersebut dapat membantu negara-negara peserta mengidentifikasi, merawat, dan mengajukan dokumen bersejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat dunia.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan dan ANRI atas dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan di Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi antarnegara diperlukan agar semakin banyak arsip yang merekam perjalanan sejarah, kebudayaan, dan perkembangan masyarakat Asia memperoleh pengakuan internasional.
Berdasarkan data ANRI hingga 2025, Indonesia telah memperoleh 16 pengakuan warisan dokumenter melalui program Memory of the World, termasuk koleksi yang diajukan bersama negara lain.
Dua di antaranya adalah arsip pendirian ASEAN periode 1967–1976 serta surat-surat dan arsip Raden Ajeng Kartini. Kedua koleksi tersebut merekam bagian penting dari sejarah kawasan Asia Tenggara dan perjuangan kesetaraan gender di Indonesia.
Sementara itu, data UNESCO yang dikutip dalam laporan tersebut mencatat Korea Selatan memiliki 20 koleksi dalam register internasional Memory of the World.
Pada 2025, dua koleksi Korea Selatan yang memperoleh pengakuan adalah arsip Jeju 4·3 dan arsip rehabilitasi hutan Korea. Dokumen tersebut merekam sejarah rekonsiliasi masyarakat serta upaya pemulihan lingkungan setelah perang.
Melalui kerja sama ini, Indonesia dan Korea Selatan berharap semakin banyak arsip bersejarah dari kawasan Asia-Pasifik yang terdokumentasi dengan baik dan memperoleh tempat dalam ingatan kolektif dunia.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian arsip sebagai sumber pengetahuan sejarah, identitas budaya, dan warisan yang dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |