ESC : ( Tutup Form )

Bank Dunia Peringatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak, Brent Bisa Tembus US$105 per Barel pada 2027


Minggu, 01  November  2026 - 15:19 WIB

Bank Dunia Peringatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak, Brent Bisa Tembus US$105 per Barel pada 2027
Foto Berita

JAKARTA - Ancaman gejolak ekonomi global masih membayangi pasar komoditas dunia. Bank Dunia memperingatkan harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga rata-rata US$105 per barel pada 2027 apabila konflik geopolitik dan gangguan pasokan energi semakin meluas.


Peringatan tersebut tertuang dalam laporan Commodity Markets Outlook terbaru Bank Dunia. Dalam proyeksi lembaga tersebut, harga berbagai komoditas global diperkirakan mengalami kenaikan hingga 23% sepanjang 2026 akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terganggunya jalur perdagangan pangan, serta ancaman fenomena iklim El Nino.


Kondisi tersebut diperkirakan mendorong harga energi melonjak sekitar 32% pada tahun ini. Kenaikan itu sekaligus berpotensi mengakhiri tren penurunan harga komoditas yang berlangsung selama tiga tahun sebelumnya.


Untuk minyak mentah jenis Brent, Bank Dunia memperkirakan harga rata-rata mencapai US$91 per barel pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata US$69 per barel pada 2025. Memasuki 2027, harga diperkirakan mulai turun ke kisaran US$79 per barel apabila situasi global tidak mengalami eskalasi lebih lanjut.


Tekanan serupa juga diperkirakan terjadi pada komoditas pangan. Bank Dunia memproyeksikan harga pangan meningkat sekitar 10% pada 2026 dan kembali bertambah 7% pada tahun berikutnya.


Secara keseluruhan, kenaikan harga pangan selama dua tahun tersebut diperkirakan mencapai 18%. Sejumlah faktor yang memengaruhinya antara lain terganggunya distribusi gandum akibat konflik, potensi penurunan hasil panen karena El Nino, serta meningkatnya ongkos produksi pertanian akibat mahalnya bahan bakar dan pupuk.


Deputi Kepala Ekonom Bank Dunia sekaligus Direktur Prospects Group, Ayhan Kose, mengatakan pasar komoditas saat ini menghadapi sejumlah tekanan secara bersamaan.


Dalam laporan tersebut, Kose memperingatkan bahwa kenaikan biaya energi dan hambatan perdagangan dapat memperluas tekanan inflasi, memperburuk kerawanan pangan, serta menekan pertumbuhan ekonomi berbagai negara.


Bank Dunia menyusun proyeksi utamanya dengan asumsi konflik geopolitik tidak mengalami eskalasi lebih lanjut. Meski demikian, lembaga tersebut tetap memperhitungkan kemungkinan munculnya tekanan yang lebih besar terhadap rantai pasok global.


Risiko tersebut dapat meningkat apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas, kerusakan fasilitas produksi minyak Rusia berlanjut, serta serangan terhadap kapal pengangkut gandum di kawasan Laut Hitam semakin intensif. Situasi tersebut juga dapat diperburuk oleh fenomena El Nino dengan intensitas ekstrem.


Jika seluruh risiko itu terjadi secara bersamaan, harga minyak Brent diperkirakan dapat mencapai rata-rata US$105 per barel pada 2027.


Tidak hanya energi, harga pangan dalam skenario tersebut juga berpotensi melonjak sekitar 12% di atas perkiraan dasar Bank Dunia. Kenaikan ini bahkan dapat melampaui rekor harga tertinggi yang pernah terjadi pada 2022.


Kondisi tersebut berisiko mengingatkan dunia pada krisis pangan yang terjadi pada awal dekade 2010-an, ketika gangguan produksi dan distribusi komoditas mendorong kenaikan harga bahan pangan secara luas.


Gejolak pasar juga terlihat dari perkiraan penurunan produksi minyak global. Bank Dunia memproyeksikan pasokan minyak dunia menyusut hingga 5,2% pada 2026. Penurunan tersebut disebut menjadi yang terbesar dalam empat dekade terakhir di luar periode pandemi Covid-19 pada 2020.


Di tengah terbatasnya pasokan, konsumsi minyak global juga diperkirakan turun sekitar 2,5%. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya harga energi serta meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, terutama di China.


Meski permintaan mengalami penurunan, pasokan yang lebih rendah membuat sejumlah negara harus memanfaatkan cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhan energi.


Dampak kenaikan harga komoditas juga merembet ke sektor logam dan pupuk. Kedua sektor tersebut menghadapi tekanan akibat perubahan biaya produksi, gangguan perdagangan, dan ketidakpastian pasokan global.


Menghadapi potensi dampak ekonomi dari gejolak komoditas, Bank Dunia menyiapkan dukungan pendanaan sebesar US$50 miliar hingga US$60 miliar.


Dari jumlah tersebut, sekitar US$25 miliar merupakan pembiayaan yang telah disiapkan untuk dapat segera digunakan. Dana tersebut diarahkan untuk membantu negara-negara terdampak menghadapi tekanan ekonomi.


Fokus bantuan mencakup penguatan perlindungan sosial bagi kelompok masyarakat rentan, menjaga kemampuan fiskal pemerintah, serta menyediakan likuiditas bagi sektor usaha dan pertanian.


Selain dukungan pembiayaan, Bank Dunia juga berupaya mempercepat keterlibatan modal swasta. Langkah ini ditujukan untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan memperluas kesempatan ekonomi bagi generasi muda di negara-negara berkembang.


Peringatan Bank Dunia tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim masih menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi stabilitas harga energi serta pangan dunia dalam beberapa tahun mendatang.

Editor: Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

kabarsurya.com di bawah naungan PT. Raja Inti Media merupakan media nasional dalam pemberitaan online yang berkomitmen menyajikan informasi secara cepat, akurat, dan terpercaya dengan mengedepankan prinsip jurnalistik yang profesional. Mengusung tagline "Hadir Tanpa Batas" untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan berita faktual, informatif dan berimbang. Menyajikan berbagai topik berita, mulai dari peristiwa nasional, pemerintahan, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, hingga gaya hidup dan teknologi. Setiap informasi yang dipublikasikan melalui proses verifikasi untuk memastikan keakuratan dan kualitas berita yang diterima oleh pembaca.

Contact Us


Alamat : Jl. Amanah Perhentian Marpoyan
Kode Pos:
WhatsApp: 082173544002
Email: admin@kabarsurya.com